MitraWart.Com
Lampung Selatan — Penertiban kafe remang-remang di kawasan depan gerbang Tol Natar, Desa Bumisari, menyisakan tanda tanya besar. Operasi yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lampung Selatan terkesan tak lebih dari formalitas, sementara aktivitas yang diduga melanggar justru terus berlangsung—rapi, senyap, dan berulang.
Investigasi awak media menemukan pola yang bukan kebetulan. Setiap kali razia digelar, seluruh kafe mendadak tutup, lampu dipadamkan, dan lokasi terlihat kosong. Namun, tak lama setelah aparat meninggalkan area, aktivitas kembali hidup. Bukan sekali, melainkan berulang dengan pola yang sama.
Pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 01.30 WIB, sedikitnya empat kafe kembali beroperasi secara diam-diam. Kafe milik Mus, Subur/Erna, Ipo, dan Iis terpantau aktif di balik tampilan luar yang gelap dan tertutup. Dari jalan, bangunan tampak seperti tak berpenghuni. Namun dari celah-celah tertutup itu, indikasi aktivitas tetap terlihat.
Pola buka-tutup ini mengarah pada dugaan adanya strategi sistematis untuk menghindari penindakan. Pertanyaannya, sejauh mana praktik ini berlangsung? Apakah aparat benar-benar kecolongan, atau ada celah pengawasan yang sengaja dibiarkan?
Kondisi ini tak hanya menunjukkan lemahnya efek penertiban, tetapi juga berpotensi menggerus wibawa penegakan aturan. Jika pelaku usaha dapat dengan mudah “membaca ritme” razia, maka operasi yang dilakukan patut dipertanyakan efektivitasnya.
Warga sekitar mengaku sudah lama resah. Keluhan demi keluhan dilayangkan, namun hasil di lapangan dinilai nihil perubahan. Penertiban disebut hanya menjadi siklus berulang tanpa solusi.
“Sudah sering dirazia, tapi hasilnya sama saja. Tutup saat petugas datang, buka lagi setelah itu. Seolah-olah sudah tahu pola gerak aparat,” ungkap seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terbaru dari Satpol PP Kabupaten Lampung Selatan terkait temuan tersebut. Minimnya transparansi semakin memperkuat spekulasi di tengah masyarakat.
Jika pola ini terus terjadi, bukan tidak mungkin praktik serupa akan berkembang lebih luas dan terang-terangan. Lebih dari itu, situasi ini membuka pertanyaan serius: apakah penegakan aturan benar-benar berjalan, atau justru sedang dipermainkan?
(Tim)
